Sabtu, 11 Agustus 2012

Laporan Apresiasi Seni Pertunjukkan


LAPORAN
APRESIASI SENI PERTUNJUKKAN
http://2.bp.blogspot.com/_iteBnn5uyWc/TLO070TBceI/AAAAAAAABNU/Mp3TnXAYIs4/s1600/Wayang+kulit+3.jpg
DISUSUN OLEH XIP5 :
·       AYNOER HAKIM          (07)
·       NURFITRI RAHMAH   (19)
·       SITI SAIDAH                  (28)
·       SYIFA’ FELICIA             (29)
·       YASITA GATTY W         (35)
·       ENJEL ARJUNA            (37)


SMA NEGERI 17
JALAN RUNGKUT ASRI TENGAH KOMP. YKP
SURABAYA

KATA PENGANTAR
Puji syukur, kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan pertolonganNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “APRESIASI SENI PERTUNJUKAN.
Di sini kami akan membahas pengertian seni teater tradisional dan modern. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang APRESIASI SENI PERTUNJUKAN.
Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lengkap dan mendetail mengenai SENI PERTUNJUKAN TEATER. Mengenai unsur instrinsik, unsur ekstinsik dan tujuan juga hasil-hasil yang kamindapatkan selama menonton pertunjukan seni teater.
Semoga setiap kata dan tulisan yang ada dalam makalah ini dapat memberi kontribusi yang nyata untuk membawa kehidupan kita bersama ke arah yang lebih baik.

Surabaya, 06 Desember 2011


Penyusun








DAFTAR ISI

Kata pengantar……………………………………………………………………. 1
Daftar isi…………………………………………………………………………… 2
Seni Pertunjukkan Modern………………………………………………….. 3
Seni Pertunjukkan Tradisional……………………………………………… 5
Dokumentasi……………………………………………………………….. 8














APRESIASI SENI PERTUNJUKKAN
1.    SENI PERTUNJUKKAN MODERN
Adalah sebuah perkembangan dari penyelarasan jaman tentang gaya hidup yang telah dipengaruhi oleh perkembangan jaman seni modern juga ikut dibawa oleh modernitas. perihal dari penyertaannya seni modern mendapat pengaruh luar baik secara filterisasi maupun tidak.

A.    UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM PERTUNJUKKAN “SOK KRITIS (LINGKAR KAPUR)”
Ø TEMA                               : Pengadilan Anak Angkat
Ø PENOKOHAN                 :
a.     Raja
b.     Bupati
c.      Dayang istana
d.     Putri
e.     Darti
f.       Pengawal 1
g.     Pengawal 2
h.     Pengawal 3
i.        Kakak Darti
j.       Setiawan
k.     Putra Mahkota
l.        Pedagang

Ø PERWATAKAN               :
a.     Raja                            : baik, bijaksana, 
b.     Bupati                        : licik, serakah, egois 
c.      Dayang istana         : penurut
d.     Putri                           : egois, suka memerintah
e.     Darti                           : baik, penyayang, bertanggungjawab
f.       Pengawal 1              : penurut
g.     Pengawal 2              : penurut
h.     Pengawal 3              : penurut
i.        Kakak Darti              : pemarah, perhatian, penyayang
j.       Setiawan                   : setia, berwibawa,bertanggungjawab
k.     Putra Mahkota       : penurut
l.        Pedagang                 : serakah, egois, licik

Ø ALUR PETA ALUR     : maju
Ø SETTING                          → tempat : kerajaan, rumah kakak Darti, sungai, pintu gerbang, pengadilan, rumah petani
→ suasana : tegang, mengharukan
Ø SUDUT PANDANG        : orang pertama pelaku sampingan
Ø AMANAT                         :
1.     Berbuat adil kepada orang lain
2.     Jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri
3.     Bertanggungjawab bila diberi kepercayaan oleh orang lain
Ø NILAI-NILAI                    :
a.     Nilai Sosial    : Berbuat adil kepada orang lain
b.     Nilai Moral   : Jangan egois

B.    SINOPSIS CERITA
Wanita yang bernama Darti, seorang pelayan di sebuah Kerajaan yang telah membesarkan Putra Mahkota, anak dari seorang Raja dan Putri. Putra Mahkota ditinggal oleh Putri (Ibunya) pada saat istana kebakaran, karena Putri hanya memikirkan pakaian dan hartanya. Setelah sekian tahun berpisah dengan Putra Mahkota, Putri merindukan Putra Mahkota kembali ke tangannya, sehingga terjadilah pengadilan memperebutkan Putra Mahkota antara Darti dan Putri di sebuah “Lingkar Kapur”.










2.    SENI PERTUNJUKKAN TRADISIONAL
merupakan keanekaragaman unsur budaya yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Berbicara tentang seni tradisional tentu merupakan karya seni budaya yang sangat dikagumi oleh bangsa Indonesia, karena mempunyai keunikan yang beragam.

A.    UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM CERITA LUDRUK “SARIP TAMBAK OSO”
Ø TEMA                               : PAHLAWAN SURABAYA YANG SAKTI
Ø PENOKOHAN                 :
a.     Menteri, Kepala Polisi Sidoarjo
b.     Lurah Noto
c.      Lurah Tambak Oso
d.     Lurah Gedangan
e.     Ibu Sarip
f.       Kakak Sarip
g.     Istri Kakak Sarip
h.     Keponakan Sarip
i.        Paidi
j.       Teman Sarip
k.     Ibu Penjual Makanan
l.        Sarip

Ø PERWATAKAN               :
a.     Menteri, Kepala Polisi Sidoarjo  : penyuruh
b.     Lurah Noto                                       : penurut, pemberani
c.      Lurah Tambak Oso                                    : kurang tegas, plin-plan
d.     Lurah Gedangan                             : tidak berbelas kasihan
e.     Ibu Sarip                                           : pasrah
f.       Kakak Sarip                                      : plin-plan, peduli
g.     Istri Kakak Sarip                              : pengatur, tegas
h.     Keponakan Sarip                            : pelit
i.        Paidi                                                   : pendendam, egois
j.       Teman Sarip                                                : suka menolong, baik
k.     Ibu Penjual Makanan                    : baik, penurut, peduli
l.        Sarip                                                  : pemabuk, pemarah, tidak sopan, pendendam, egois, memiliki rasa kasih sayang, suka bikin ulah dan tidak putus asa

Ø ALUR PETA ALUR     : maju
Ø SETTING                          tempat     : hutan, rumah Sarip, rumah   kakaknya Sarip, warung makanan.
suasana    : menengangkan dan mengharukan
Ø SUDUT PANDANG        : orang pertama pelaku sampingan
Ø AMANAT                         :
1.     Jadilah orang yang jujur
2.     Bila berniat membantu orang lain gunakan cara yang baik
3.     Hormatilah ibumu
4.     Bersikap sopan pada orang yang lebih tua
Ø NILAI-NILAI                    :
a.     Nilai Agama  : Perbuatan mencuri, berbohong, membunuh dan minum minuman keras itu dosa
b.     Nilai Moral   : Tidak boleh melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain apalagi terhadap orang yang lebih tua
c.      Nilai Sosial    : Kita harus saling tolong menolong

SINOPSIS CERITA
          Sarip adalah seorang pemuda desa Tambak Oso tidak suka dengan penjajah Belanda. Ketidaksukaannya terhadap Belanda dan Antek-anteknya tersebut dilakukan menurut caranya sendiri yaitu mencuri harta benda orang yang bekerjasama dengan Belanda dan kemudian hasilnya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di desanya dan desa-desa lain. Perbuatan Sarip ini sangat meresahkan para pejabat Belanda serta pendukung yang notabennya adalah beberapa petinggi desa. Hanya Lurah Tambak Oso yang tidak pernah mempermasalahkan Sarip, karena Sarip menjadi solusi rakyat mengatasi kemiskinan. Suatu ketika Asisten Wedana memerintahkan Luah Gedangan menagih pajak tambak milik Sarip.


Awalnya Lurah Gedangan menolak tugas dengan alasan Tambak Oso bukan
daearah kekuasannya, namun perintah tetap perintah. Hasilnya, karena Lurah Gedangan termasuk gila hormat tugas dilaksanakan meskipun harus tewas ditangan Sarip. Pembunuhan terhadap Lurah Gedangan menjadikan Sarip sebagai buronan, Mualim Kakaknya tidak mengijinkan Sarip tinggal dirumahnya takut di dakwa melindungi buronan. Simpati penduduk kepada Sarip membuat Paidi, pembantu pamannya, merasa iri dan selalu menyebarkan berita sisi buruk Sarip dan merasa dirinya paling pendekar di kampong. Tak ayal lagi Paidi akhirnya mati juga ditangan Sarip dan keinginannya meraih predikat pendekar wetan dan kulon kali pupus.
Merasa wilayahnya tercemar oleh perbuatan Sarip yang melakukan pembunuhan dua kali, Manteri Polisi memerintahkan agar Sarip ditangkap atau mati dengan menjadikan mboknya sebagai umpan setelah Mualim membeberkan rahasia adiknya..



















DOKUMENTASI
Seni Teater Tradisional : Ludruk (THR)


Seni Pertunjukan Modern : Teater “Sok Kritis”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar